Tak Punya Rujukan Assyuro, Syiah Saling Menyayangkan

Tak Punya Rujukan, Syiah Ini Menyayangkan Jika Assyura Identik Pukul Badan

Pimpinan Yayasan Majelis Khair Habib Husin Mulachela yang mengatakan bahwa peringatan Asyura tak perlu anarkis. Menurutnya menjadi Sayang, bila peringatan 10 Muharram tersebut terlanjur identik dengan perilaku salah satu golongan yang memukul-mukul dan menyakiti diri sendiri.

"Memperingati dengan memukul dan merusak badan justru dilarang," ungkap Habib Husin yang dikutip dari Republika.co.id, Jumat (23/10).

Dalam peringatan Asyura syiah yang dihelat Yayasan Majelis Khair berbeda dengan Syiah yang menjadi rujukan mereka yang telah identik dengan memukul badan, merobek saku, dan melukai badan dengan pukulan, pisau maupun benda tajam yang lain. Habib Husin hanya memimpin pembacaan doa Asyura yang diikuti lebih dari 500 orang di Masjid Ar Riyadh. Sejak pagi, beragam kegiatan sosial seperti santunan anak yatim dan dhuafa, khitanan massal, dan berbuka puasa bersama juga telah dilaksanakan.

Jika melihat negeri-negeri syiah seperti Iran yang berimam kepada Khomeni, maka peringatan As-Syuro menjadi tumpah ruah dengan orang-orang yang menyakiti diri dengan membuat badan berdarah, maka hal ini adalah hal yang paling mereka suka lakukan saat memperingati hari asyuro atau mereka menyebutnya dengan karbala , bahkan bermandi  dan memakan kotoran adalah hal yang lazim bagi mereka.

Ahlusunnah Puasa Muharram, Puasa Utama

Di bulan Muharram kita dianjurkan memperbanyak puasa. Karena, ia adalah bulan mulia di sisi Allah. Kebiasaan berpuasa di bulan ini telah lama dikenal di kalangan kaum jahiliah Quraisy. Mereka mengambil kebiasaan itu dari sisa-sisa ajaran para nabi dan rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-. Tak heran apabila Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tetap membiarkan puasa itu dan memerintahkan para sahabat melakukannya saat beliau di Madinah. [Lihat Irsyadul Kholq Ilaa Dinil Haqq (hal. 454-455) oleh Mahmud As-Subkiy]

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata, "Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْلِ

"Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah (puasa) pada bulan Allah, Bulan Muharram dan sholat yang paling utama usai sholat wajib adalah sholat malam". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 1163)]

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa berpuasa di bulan Muharram merupakan amalan yang utama di sisi Allah -Azza wa Jalla-.

Al-Imam Abu Zakariyyah An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, "Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, "Puasa yang paling utama setelah Romadhon adalah (puasa) pada bulan Allah, Al-Muharram…" merupakan penegasan bahwa ia (Bulan Al-Muharram) bulan yang paling utama untuk berpuasa". [Lihat Al-Minhaj (8/55) oleh AN-Nawawiy, cet. Dar Ihya' At-Turots Al-Arobiy, 1392 H]

Perhatikanlah keutamaan besar yang dimiliki oleh Bulan Muharram, ia dikatakan sebagai "Bulan Allah". Disini Allah menyandarkan bulan itu kepada dirinya demi menunjukkan bahwa bulan itu memiliki keutamaan dan kemuliaan agung di sisi Allah sebagaimana halnya Ka'bah dinamai dengan "Baitullah" (Rumah Allah), demi menunjukkan kemuliaannya.

Keutamaan Puasa 'Asyuro

Nabi bersabda :
''Puasa 'Asyuro akan menghapus dosa setahun yang lalu''.
(HR. Muslim)

10 Muharom 1437 H yang kebetulan jatuh pada hari Jum'at, 23 oktober 2015 sebaiknya dimanfàatkan sesuai dengan sunnah rasulullah, yaitu

''Apabila tiba tahun depan In syaa Allah kita akan berpuasa pula pada hari ke Sembilan''

Ibnu abbas brkata :
''Belum sampai tahun depan Nabi sudah meninggal dunia''
(HR. Muslim)

MEREKA YANG MENGIKUTI JEJAK AHLUL KITAB

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: ( فَمَنْ)؟ أَخْرَجَاهُ.

Dari Abu Sa'îd radhiyallâhu 'anhû, (beliau berkata), "Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Sungguh kalian akan mengikuti tradisi umat-umat sebelum kalian, bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lain. Hingga, kalau mereka masuk ke dalam liang dhabb, niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya.'
Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah (mereka adalah) Yahudi dan Nashara?'
Beliau menjawab, '(Ya), siapa lagi (kalau bukan mereka)?'."
Dikeluarkan oleh keduanya (Al-Bukhâry dan Muslim).

Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam mengabarkan suatu kabar yang maknanya adalah pelarangan terhadap apa yang dikandung dalam kabar tersebut yakni: bahwa umatnya tidak akan meninggalkan sesuatupun dari apa-apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara melainkan pasti ia kerjakan seluruhnya. Tidak ditinggalkannya darinya sedikitpun, meskipun itu adalah sesuatu yang sepele. Kabar ini dikuatkan dengan beberapa jenis penegasan; yaitu huruf lâm sebagai pijakan sumpah, nûn taukîd, serta penyifatan keserupaan mereka dengan orang-orang Yahudi dan Nashara seperti serupanya satu bulu yang ada pada anak panah dengan pasangannya, bulu yang lain, kemudian penyifatan keserupaan itu dengan penyifatan yang sangat tajam menggambarkan penyerupaan terhadap mereka, bahwa seandainya mereka (orang-orang Yahudi dan Nashara) melakukan suatu kebodohan yang aneh, pasti di dalam umat ini ada yang akan melakukannya karena menyerupai mereka.
Pada hadits ini, terdapat dalil yang menunjukkan akan terjadinya kesyirikan pada umat ini karena hal itu ditemukan pada umat-umat sebelum kita, dan di kalangan umat ini akan ada orang yang berbuat (kesyirikan) disebabkan oleh mengikuti (umat-umat sebelum kita).

Faedah Hadits
1. Terjadinya kesyirikan pada umat ini karena mengikuti umat-umat yang mendahuluinya.
2. Suatu tanda di antara tanda-tanda kenabian, yang beliau mengabarkan hal itu sebelum terjadinya, kemudian benar-benar terjadi sebagaimana yang dikabarkannya.
3. Peringatan terhadap (bahaya) menyerupai orang-orang kafir.
4. Peringatan terhadap kesalahan yang orang-orang kafir terjatuh ke dalamnya, berupa kesyirikan terhadap Allah dan selainnya di antara hal-hal yang Allah Ta'âlâ haramkan.

Sebagai agama baru yang tujuannya untuk membuat bingung dan menyesatkan ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki rujukan pasti dalam menjalankan kegiatan agama mereka.

0 Comment "Tak Punya Rujukan Assyuro, Syiah Saling Menyayangkan"

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca...!!!

Thank you for your comments