Usia Berbeda, Bahasa Berbeda


Nasehat dahsyat Rasulullah itu pernah melahirkan pemimpin dunia Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar. Sudah seharusnya, kita menggali mutiaranya untuk bisa melahirkan orang yang sama.Ternyata Nabi menggunakan susunan bahasa yang berbeda saat menasehati dua anak yang berbeda usia tersebut. Mari kita rasakan bahasa Nabi untuk keduanya.Ini adalah nasehat Rasulullah untuk anak Abdullah bin Abbas. Rasulullah menggunakan mukaddimah sebelum menasehati.
“Nak, aku akan mengajarimu beberapa kalimat, semoga Allah memberimu manfaat dengannya.”
Mengingat, usia anak-anak yang cenderung asyik dengan permainannya, sering teralihkan oleh sekelilingnya, pendek konsentrasinya. Maka, menasehati dengan pembukaan beberapa kalimat akan memasukkan anak dalam frame konsentrasi. Sehingga seorang anak siap menerima nilai-nilai yang akan disampaikan.
Dan sesungguhnya ini adalah metode al Quran. Ulama tafsir menyampaikan tentang fungsi huruf muqotho’ah (huruf-huruf yang mengawali surat Al Quran seperti: ألم، ق، كهيعص) adalah untuk menarik perhatian. Karena huruf-huruf tersebut dikenal dengan baik oleh audiens (orang-orang Arab) tetapi tidak ada artinya. Seperti sepotong puzzle yang membuat orang semangat untuk mencari wajah utuhnya. Hal ini, akan membuat mereka penasaran dan mau mendengarkan pesan ayat berikutnya. Demikian juga fungsi nida’ (kata panggilan seperti : wahai orang-orang beriman, wahai orang-orang kafir). Mereka yang merasa beriman akan segera membuka hati dan telinga mereka, karena panggilan telah datang.
Dalam hadits Nabi di atas ada panggilan: Wahai anak...
Sementara saat itu, tidak ada anak lain selain Abdullah bin Abbas. Ada seni memanggil dalam hadits-hadits Nabi (insya Allah lain kali kita bahas). Kreatifitas pendidik seperti inilah yang diperlukan agar dunia anak-anak pun penuh warna.
Dalam hadits Nabi juga adalah kalimat pembuka: aku akan mengajarimu beberapa kalimat.
Ini mukaddimah, agar telinga segera dibuka, perhatian segera dinyalakan, akal siap menerima dan hati siap menyimpannya.
Dan semua ini dihaluskan dengan sentuhan doa: semoga Allah memberimu manfaat dengannya.
Mari kita biasakan lisan ini untuk selalu menyelipkan doa dalam setiap kalimat yang diuntainya. Sebuah sentuhan hati yang mengawali sebuah nasehat yang akan bersemayam dalam hati. Jadi, tak perlu khawatir. Anak usia SD hari ini sudah bisa menerima berbagai nasehat berisi seperti nasehat Rasulullah untuk Abdullah bin Abbas. Dengan konsentrasi tinggi. Asal menggunakan metode Nabi.
Ini sedikit berbeda dengan cara Nabi menasehati anak muda Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar telah berinteraksi sangat sering dengan Rasulullah. Telah tertanam pula rasa bangga dan kagum kepada pendidiknya itu. Sehingga anak muda ini memang telah siap menerima nasehat. Bahkan dengan tanpa mukaddimah sekalipun. Tetapi tetap jangan pelit melakukan sentuhan fisik. Karena sentuhan fisik orang yang dikagumi akan sangat dalam membekas dalam hati.
Untuk menasehati anak Abdullah bin Abbas, Nabi memilih kalimat yang singkat, padat dan mudah dipahami. Rasakan itu pada kalimat-kalimat Nabi berikut:
Jagalah Allah, Dia akan menjagamu.
Jagalah Allah, kamu akan menjumpai Nya ada di hadapanmu.
Kenalilah Dia dalam keadaan lapang, Dia akan mengenalimu di waktu sempit.
Jika kamu minta, mintalah kepada Allah.
Satu tema, titik. Satu tema, titik. Menjadi seperti sebuah doktrin yang disampaikan bahkan tanpa penjelasan. Karena kalimat-kalimatnya mudah dipahami oleh seorang anak, sehingga sang anak akan mengurai sendiri kalimat itu dalam dirinya. Membuatnya lebih cerdas, membuatnya hidup dalam pemahaman khas miliknya.
Hal ini berbeda dengan kalimat Nabi untuk Abdullah bin Umar yang telah memasuki usia remaja yang telah tumbuh dalam bimbingan nubuwah. Rasakan kalimat berikut ini:
Jadilah kamu di dunia ini seakan seorang yang asing (pengembara) atau penyeberang jalan.
Kalimat singkat, filosofis dan kaya dengan ragam tafsir. Nabi tak hanya menasehati sang anak muda. Tetapi juga ingin mengajari mereka untuk menghidupkan logika berpikir yang kelak menjadi modal besar bagi kebesarannya. Sekaligus memberikan penghargaan bagi usia mereka yang mulai tumbuh dewasa. Usia yang mulai ingin menunjukkan bahwa ia telah besar, bukan anak-anak lagi. Dengan bahasa dewasa seperti ini, dia pun merasa dihargai dengan usianya yang telah dewasa.
Bahkan kalimat filosofis ini pun disampaikan Nabi tanpa tafsir. Tapi lihatlah penafsiran Abdullah bin Umar:
Jika kamu berada disore hari, jangan menunggu hingga pagi hari. Dan jika kamu berada di pagi hari, jangan menunggu hingga sore hari. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu dan hidupmu sebelum matimu
Subhanallah, serasa jauh antara penafsiran Abdullah bin Umar dan pesan Rasulullah. Tetapi ini adalah penafsiran yang amat dahsyat. Kita coba ikuti cara berpikir Abdullah bin Umar.
Seorang musafir atau penyeberang jalan, tidak mungkin berhenti dalam pengembaraannya atau di tengah jalan. Ada tempat tujuan atau tempat kembali. Begitulah hidup di dunia ini. Sebuah perjalanan yang bukan merupakan tujuan akhir. Maka, perbekalan selayaknya seorang musafir harus benar-benar matang. Kesempatan kebaikan jangan disia-siakan. Karena waktu terbatas. Dan kita pun akan segera pergi, menuju tempat tujuan utama dan abadi. Dengan inilah, penafsiran Abdullah bin Umar seperti di atas tersampaikan.
Kata-kata Nubuwah selalu pilihan, pantas jika melahirkan orang-orang pilihan!
Budi Ashari

0 Comment "Usia Berbeda, Bahasa Berbeda"

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca...!!!

Thank you for your comments